Pendidikan anak pada fase "golden age"

balita usia golden age


ANAK adalah amanah Tuhan. Menjadi apa Anak-anak ke depan sangat tergantung pada orang dewasa yang mengelilinginya. Sesuai kodratnya Anak yang terlahir dari rahim seorang ibu bagai sebuah kertas putih yang polos. Orang tua dan lingkungan disekitarnya yang akan membentuk kertas itu menjadi berwarna dengan menulis, menggambar atau bahkan ada yang meremasnya menjadi tidak berarti. Kesemuanya bergantung pada kehendak orang tua dan orang dewasa dalam proses interaksi bersama Anak. Pendidikan pada masa anak di usia dini menjadi tanggung jawab utama orang tua serta orang dewasa sebagai pengasuh/pendidik di lingkungannya.

Menurut Mentessori, ketika mendidik anak-anak, perlu kita ingat bahwa mereka adalah individu-individu yang unik dan akan berkembang sesuai kemampuan mereka sendiri. Tugas orang tua dan orang dewasa sebagai pendidik/pengasuh adalah bagaimana memberi sarana dorongan belajar dan memfasilitasi ketika mereka telah siap untuk mempelajari sesuatu. Patut dicatat oleh kita semua bahwa tidak ada Anak yang bodoh di dunia ini. Yang ada hanyalah ketertarikan dan minat mereka yang beraneka ragam. Anak-anak mempunyai kecerdasan dan bakat yang berbeda-beda, tugas kita hanyalah memfasilitasi mereka sesuai perkembangan yang mereka butuhkan.Perkembangan pendidikan anak dapat terjadi melalui beberapa fase. Tulisan ini mencoba menggambarkan fase penting dan utama yaitu sejak tahun pertama seorang anak dilahirkan hingga pada usia enam tahun. Fase ini adalah sebuah masa yang baik dimana perkembangan fisik, mental maupun spiritual anak akan mulai terbentuk. Otak anak juga berkembang pesat hingga mencapai 80 %. Dengan demikian fase ini disebut dengan Usia Emas (the golden ages) karena fase ini akan membentuk kepribadian anak setelah ia dewasa. Untuk itu peran pendidikan dalam fase ini menjadi sangat penting dan tidak dapat disepelekan, karena perkembangan mental di usia ini berlangsung sangat cepat. Fase ini menjadi periode yang senstif dimana anak sangat peka mempelajari atau berlatih sesuatu hal yang dia lihat dan saksikan. Dengan demikian lingkungan akan sangat mempengaruhi seorang Anak untuk membuka pikiran mereka dimana sifat anak menjadi peniru yang baik pada apa yang dia lihat dan saksikan.

Pembelajaran Usia Dini/Pra Sekolah
Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD)/Pendidikan Pra Sekolah menjadi salah satu proses penting dalam upaya mendukung perkembangan anak-anak. Hal ini patut menjadi perhatian khusus dalam upaya peningkatan kecerdasan fisik dan mental anak-anak sebelum melanjutkan pendidikan ke jenjang berikutnya. Ki Hajar Dewantara meyakini, suasana pendidikan yang tepat dan baik adalah dalam suasana kekeluargaan dan dengan prinsip asih (kasih), asah (memahirkan) – asuh (bimbingan). Anak bertumbuhkembang dengan baik kalau mendapatkan perlakuan kasih sayang, pengasuhan yang penuh pengertian dan dalam situasi yang nyaman dan damai. Beliau menganjurkan agar dalam pendidikan, anak memperoleh pendidikan untuk mencerdaskan pikiran, menguatkan hati dan meningkatkan keterampilan tangan (educate the head, the heart and the hand).

Satu hal yang dibutuhkan dalam upaya menciptakan prinsip pembelajaran asah, asih dan asuh tersebut adalah menciptakan suasana belajar di keluarga dan taman yang akrab, hangat, ramah serta bersifat demokratis. Anak-anak sebaiknya diberikan kesempatan untuk menentukan keinginannya sendiri, karena dalam masa tersebut mereka sedang membutuhkan kemerdekaan dan perhatian dalam belajar. Dalam konteks tersebut anak-anak biasanya memiliki rasa ingin tahu yang sangat besar dan menuntut untuk dapat dipenuhi. Mereka terdorong untuk belajar hal-hal yang baru dan sangat senang untuk bertanya dengan tujuan ingin mengetahuinya. Dengan demikian tugas pendidik/pengasuh hendaknya memberikan jawaban yang wajar.

Teladan para Pendidik/Pengasuh
Peran penting orang tua dan orang dewasa sebagai pendidik/pengasuh adalah menjadi teladan yang baik. Bagai sebuah pepatah, “Anak-anak tidak pernah menjadi pendengar yang baik bagi orang tuanya, tetapi mereka dapat menjadi “peniru yang baik” bagi orang tuanya” Mereka belajar melalui melihat apa yang ada dan terjadi di sekitarnya, bukan lewat nasihat semata-mata. Nilai yang kita ajarkan melalui kata-kata, hanya sedikit yang mereka lakukan, sedangkan nilai yang kita ajarkan melalui perbuatan, akan banyak mereka lakukan. Sikap dan perilaku kita merupakan pendidikan watak yang terjadi setiap hari, dari terbit matahari hingga malam menjelang.

Menjadi teladan pelaksana moral bagi anak-anak bukanlah sebuah pilihan bebas, tetapi menjadi suatu keharusan yang tak mampu terelakkan. Ini adalah kenyataan hidup. Demi Anak kita tidak bisa menunda sampai besok, karena kebutuhannya adalah untuk hari ini maka kita mestinya menjadi teladan mereka setiap hari.

Pertanyaannya bagaimana menjadi model/teladan yang baik bagi anak-anak? 1) Kita menyadari bahwa kita menjadi teladan utama anak-anak! 2) Tunjukkan prioritas nilai melalui kegiatan dan pengalaman harian! 3) Tunjukkan kita adalah pribadi yang ramah, positif, dan terintegrasi! 4) Hadapi anak dengan penuh penghargaan, cintai mereka dan mengertilah mereka! 5) Yakinlah akan nilai-nilai yang kita miliki! 6) Pada pilihan etis, bertanyalah kepada mereka bagaimana sebaiknya harus mengambil pilihan atau keputusan.

Tanggung jawab Negara (Pemerintah)
Konvensi Hak Anak (KHA) dan Undang-Undang Perlindungan Anak (UUPA) No. 23 Tahun 2002 dengan tegas menyatakan bahwa Pendidikan adalah Hak dasar Anak, sehingga Negara dalam hal ini Pemerintah berkewajiban untuk memenuhui hak Anak atas pendidikan tersebut.

Mendeskripsikan tanggung jawab terhadap pendidikan terutama bagi Anak usia dini, maka peran strategis pemerintah adalah memastikan akses dengan berupaya mengoptimalkan tersedianya sarana dan prasana pendukung agar semua Anak dapat mengikuti proses pendidikan sesuai dengan tahapan pengembangannya. Peran selanjutnya adalah memastikan kualitas pendidikan anak usia dini berdasarkan tujuan pendidikan sejatinya atas indikator-indikator yang telah dirancang dalam kurikulum pendidikan di usia dini.

Meski realitas pendidikan di Indonesia secara umum masih berproses dan belum sepenuhnya terealisasi dalam mewujudkan pendidikan yang berkualitas, kita sebaiknya tetap optimis bahwa pendidikan anak di usia dini dapat menjadi agenda penting pemerintah serta lembaga sosial di semua tingkatan. Setidaknya perhatian terhadap tahap pendidikan ini seharusnya menjadi setara atau bahkan lebih dengan tingkat pendidikan diatasnya, karena lagi lagi fase ini adalah fase penentu menjadi apa anak-anak kita setelah dewasa nantinya.

Akhirnya, tujuan pendidikan Anak di usia emas adalah untuk memanusiakan manusia kecil yang berjiwa besar. Pendidikan diharapkan mampu menghasilkan pribadi-pribadi yang cerdas, bermoral, terampil, serta mampu bertanggungjawab atas hidup dirinya dan orang lain disekitarnya. Semoga kita mampu menciptakan masa depan Anak-anak bangsa yang lebih bermartabat.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar